
Ada beberapa hal yang harus anda perhatikan terkait mulut, ucapan, dan gestur (sikap diri) anda ketika anda berkhotbah, yang mana itu semua akan menentukan apakah anda sebagai seorang pengkhotbah yang beretika ataukah tidak.
- Sebagai Pelayan, bukan sebagai Ahli Surga. Harus diingat bahwa anda sedang melaksanakan tugas pelayanan, -bukan perform atau pertunjukan, oleh sebab itu gestur yang harus anda hidup dan tunjukkan haruslah gestur seorang pelayan Tuhan, -bukan artis, -bukan juga ahli surga. Anda sedang ada di tengah kebaktian, yang mana satu-satunya pribadi yang menjadi objek dan subjek pemujaan adalah Tuhan, -bukan diri anda. Anda harus sadar, tahu diri dan menempatkan diri sebagai pelayan, pelayan Firman, -bukan artis yang sedang menampilkan pesona diri, -juga bukan ahli surga yang maha tahu dan merasa berhak menjadi hakim dan mahaguru bagi jemaat. Diksi (pilihan kata), narasi (cara bertutur),dan intonasi (nada berbicara) yang keluar sebagai ucapan anda, serta gestur anda harus mencerminkan pribadi seorang pelayan, -bukan artis, -juga bukan ahli surga yang maha tahu. Oleh sebab itu setiap pengkhotbah harus benar-benar membereskan diri di hadapan Tuhan untuk tidak terjebak dalam sikap dan karakter narsisistik. Sekali lagi perlu diingat bahwa ini adalah acara kebaktian, dan bukan panggung atau forum pribadi anda; Tuhan lah tokoh utamanya, -bukan anda.
- Beritakan Kristus saja, bukan yang lain. Pokok pemberitaan anda sebagai pengkhotbah haruslah Kristus saja, Tuhan saja, bukan yang lain; -bukan diri anda, -bukan keluarga anda, -bukan capaian anda. Jika pun anda ingin menyampaikan kesaksian kebaikan Tuhan atas diri atau keluarga anda, itu boleh, namun lakukan benar-benar dengan seksama, bukan untuk mencuri kemuliaan Tuhan. Jangan dibalik; bahwa yang hendak anda sampaikan adalah benar-benar Tuhan dan pekerjan-Nya, -bukan diri dan capaian anda. Seringkali pengkhotbah jatuh pada bagian ini, bahkan memang sengaja melakukannya, yaitu memang hendak menunjukkan dirinya, keluarganya, capaiannya, kepiawaiannya, kharismanya, propertinya, citra dirinya kepada jemaat dengan cara memakai dalil dengan nama Tuhan dan dengan gestur yang ditata sengaja untuk memanipulasi jemaat.
- Mimbar Penggembalaan bukan Ajang Kompetisi Unjuk Diri untuk Saling Menjatuhkan. Khotbah harus dilaksanakan dalam rangka penggembalaan, kebersamaan merawat umat, memberi makanan rohani bagi jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan, dan persekutuan bersama sebagai Orang Percaya dengan Tubuh Kristus. Oleh sebab itu menggunakan khotbah untuk menjatuhkan orang lain merupakan kegiatan yang tidak dapat dibenarkan, -termasuk juga meledek, merendahkan, membawa-bawa atau menyinggung tokoh-tokoh yang diyakini sebagai dewa-dewi yang dihormati pada keyakinan agama lain. Jika pengkhotbah melakukan itu, kita akan semakin melihat bahwa yang sedang dia tuturkan sebenarnya adalah ucapan kebencian dan bukan Firman, dan dia sedang mengumbar dirinya dalam bicaranya. Beritakan Kristus saja, bukan yang lain!
- Sampaikan Kebenaran, jangan melakukan Akrobat Teologis. Beritakan kebenaran yang berabad-abad telah menjadi kesaksian dan warisan iman; jangan melakukan akrobat teologis yang malah menimbulkan kesesatan bagi diri anda sendiri dan jemaat. Oleh sebab itu pengkhotbah juga harus terlebih dahulu belajar, mengerti, memahami dan menghidupi kebenaran yang telah diwariskan dalam ajaran-ajaran dan kitab suci.
- Bicara dengan Sederhana, Teratur, Sopan, dan Proporsional. Sampaikan khotbah dengan pilihan kata yang sederhana. Berkhotbah tidak sama dengan menyampaikan kuliah. Berbicaralah dengan wajar dan tidak secara emosional apalagi menggunakan itu untuk memanipulasi jemaat. Jaga kesopanan dalam berbicara. Masih sering didapati pengkhotbah menunjukkan ketidaksopanannya di mimbar karena terlalu emosional hingga mengeluarkan ungkapan ‘Gila..! Gile…!’ yang padahal itu adalah umpatan, yang merupakan kata-kata kotor.
- Berpenampilan dengan rapi, sopan, bersih, dan wajar. Setiap pengkhotbah harus berpenampilan rapi, bersih dan sopan, namun ada lagi satu yang tak kalah penting yaitu juga harus wajar. Yang dimaksud wajar adalah tidak berlebihan, yang mana semua kategori itu harus menampilkan dan menunjukkan gestur pelayan, bukan artis yang glamour. Pikirkan bagaimana perasaan jemaat yang sedang duduk mendengar khotbah anda, yang pada hari itu tidak ada uang dan beras untuk ia makan, sementara anda berkhotbah dengan menggunakan outfit dan aksesoris dengan harga jutaan, bahkan puluhan atau ratusan juta, yang sangat tak wajar.
Artikel ini telah dibaca sebanyak 569 kali.