
Καὶ εἶπεν ὁ καθήμενος ἐπὶ τῷ θρόνῳ· Ἰδοὺ καινὰ ποιῶ πάντα (Kai eipen ho kathēmenos epi tō thronō: Idou kaina poiō panta), “Dan Ia yang duduk di atas takhta berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.” -Why. 21:5a
Ada dua macam kata ‘baru’ yang memiliki makna yang berbeda yang disebutkan dalam Perjanjian Baru: [1] νέος (neos) dan [2] καινός (kainos). Walaupun kedua kata itu sama-sama menyatakan ide tentang suatu kebaruan, namun memiliki perbedaaan. Kata νέος menyatakan ide tentang ‘baru,’ suatu kebaruan dengan jenis atau hakikat yang sama, sedangkan καινός menyatakan suatu kebaruan dengan kualitas yang lebih dari sebelumnya, sehingga juga dapat diterjemahkan ‘yang lain,‘ melebihi dari yang sebelumnya. kata καινός muncul sebanyak 42 kali dan νεός muncul sebanyak 23–24 kali.
Pada Why. 21:5a, Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru, digunakan kata καινός, hendak menyatakan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu ‘yang baru, yang lain, melebihi sebelumnya.’ Kata καινός konsepnya berakar dari kata Ibrani חָדָשׁ (ḥādāš) yang menyatakan tentang sesuatu yang baru, ‘yang lagi,’ yang berangkat dari motivasi Allah, dikerjakan oleh-Nya sendiri dan berkaitan langsung oleh diri-Nya sendiri, sehingga selalu ada unsur kehidupan baru atas .yang baru’ tersebut
Ratapan 3:23-24 menyatakan, חַסְדֵי יְהוָה כִּי לֹא־תָמְנוּ כִּי לֹא־כָלוּ רַחֲמָיו חֲדָשִׁים לַבְּקָרִים רַבָּה אֱמוּנָתֶךָ, ḥasdê adonai kî lō-tāmnû kî lō-kālû raḥămāyw ḥădāšîm labbĕqārîm rabbāh ’ĕmûnāteḵā, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu! Kata חָדָשׁ muncul dalam bentuk jamak חֲדָשִׁים untuk menyatakan suatu kebaruan dan pembaruan kualitas yang terus menerus dikerjakan oleh Allah.
Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna,” akar kata καινός muncul dalam bentuk ἀνακαίνωσις (anakainōsis). Prefiks ἀνά menyatakan tahapan yang progresif, terus dilakukan, yaitu tindakan pembaruan dari Allah itu sendiri.
Oleh karena Tuhan telah menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:5a), perintah “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu” (Roma 12:2) adalah perintah yang dapat dikerjakan oleh setiap orang. Ini menjadi pemahaman kita memasuki tahun yang baru, bahkan bukan tahun yang baru saja, melainkan juga bulan, minggu, hari, jam, menit, serta detik kehidupan yang terus baru dan berjalan.